Istilah-Istilah Dalam Perkembangan Desa

Arahan adalah suatu kegiatan yang berorientasi ke masa mendatang dengan tujuan untuk menyesuaikan keadaan dan meningkatkan kegiatan tersebut secara optimal terhadap potensi yang ada (Sadono Sukirno, 1982).

Desa dalam arti umum adalah permukiman manusia yang letaknya di luar kota dan penduduknya berpangujiwa agraris. Dalam bahasa Indonesia sehari-hari disebut juga kampung. Desa dalam arti lain adalah bentuk kesatuan administratif yang disebut juga kelurahan, lalu lurah adalah kepala desa. Dengan demikian di dalam kota-kota pun dikenal sebutan desa meskipun isinya penuh dengan pertokoan dan pasar serta deretan kios. Adapun desa yang tersebar di luar kota dengan lingkungan fisibiotisnya adalah gabungan dukuh; dukuh ini sendiri dapat mewujudkan suatu unit geografis karena tersebar seperti pulau di tengah-tengah persawahan atau hutan (Daldjoeni, 1998 : 53)

Lowry Nelson dalam Bintarto, Pengantar Geografi Desa (1977) menulis bahwa memang sulit untuk menyusun definisi dari desa yang tepat, tetapi sebagai geograf ia berdasarkan kenyataan bahwa faktor-faktor geografis yang jelas berpengaruh pada desa, mendefinisikan desa demikian: perwujudan geografis yang ditimbulkan oleh unsur-unsur geografis, sosial, ekonomis, politis, dan kultural yang ada di situ, dalam hubungannya dan pengaruh timbal balik dengan daerah-daerah lainnya.

Adapun desa dalam arti administratif oleh Sutardjo Kartohadikusumo 1953, dijelaskan sebagai suatu kesatuan hukum dimana bertempat tinggal suatu masyarakat yang berkuasa mengadakan pemerintahan sendiri.

Menurut W.S. Thompson, 1953 mengatakan bahwa desa merupakan salah satu tempat untuk menampung penduduk.

Menurut The Liang Gie, 1967 mengatakan desa sebagai daerah otonom tingkat terbawah. Desa dimaksudkan daerah yang terdiri dari suatu atau lebih dari suatu desa yang digabungkan, hingga merupakan suatu daerah yang mempunyai syarat-syarat cukup untuk berdiri menjadi daerah otonom yang berhak mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri.

(Sebagaimana dijelaskan oleh Kamus Tata Ruang edisi 1. diterbitkan oleh Direktorat Jendral Cipta Karya Departemen Pekerjaan Umum. 1998 : 17) Desa adalah suatu wilayah yang ditempati oleh sejumlah penduduk sebagai kesatuan masyarakat termasuk di dalamnya kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai organisasi pemerintahan terendah langsung dibawah camat dan berhak menyelenggarakan rumah tangganya sendiri di ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia ; permukiman kecil di luar kota dengan jumlah penduduk, luas daerah geografisnya terbatas, kepadatan penduduk rendah, berpola hubungan tradisional, mata pencaharian yang utama di bidang pertanian.

Wilayah pedesaan, menurut Wibberley, menunjukan bagian suatu negeri yang mempelihatkan penggunaan tanah yang luas sebagai ciri penentu, baik pada waktu sekarang maupun beberapa waktu yang lampau. (T.Johara, 1999)

Yudi 1996, dalam (http://www.ciss.com) menyebutkan Desa Pusat Pertumbuhan yaitu suatu wilayah yang berperan sebagai tempat pelayanan sosial-ekonomi terhadap daerah belakangnya, yang diharapkan sebagai pusat dan dapat menjalarkan perkembangan ke daerah pengaruhnya. Pusat tersebut dapat ditentukan dengan terkonsentrasinya sarana dan prasarana yang mendukung kegiatan masyarakat daerah sekitarnya.

Sedangkan menurut Jurnal Tata Ruang (http://www.lib.itb.ac.id) mengenai pusat pertumbuhan dan pusat pelayanan adalah:

  1. Pusat pertumbuhan merupakan tempat berkumpulnya kegiatan yang mampu berperan sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi, serta mempunyai keterkaitan produksi baik secara vertikal maupun horizontal.
  2. Pusat pelayanan merupakan pusat yang memberikan pelayanan bagi wilayah pengaruhnya dalam penyediaan barang dan jasa. Didukung empat unsur penting untuk menjelaskan terselenggaranya kegiatan dipusat-pusat pelayanan yaitu:
    • Hirarki : suatu kegiatan pelayanan mempunyai tingkatan dimulai dari tingkatan rendah dipermukiman kecil, sampai pada tingkatan tingkatan yang terdapat di kota besar.
    • Fungsi : meliputi jenis pelayanan dan kelengkapan fasilitasnya.

Pusat pertumbuhan (growth pole) dapat diartikan dengan dua cara, yaitu secara fungsional dan secara geografis. Secara fungsional, pusat pertumbuhan adalah suatu lokasi konsentrasi kelompok usaha atau cabang industri yang karena sifat hubungannya memiliki unsur-unsur kedinamisan sehingga mampu menstimulasi kehidupan ekonomi baik dalam maupun ke luar (daerah belakangnya). Secara geografis, pusat pertumbuhan adalah suatu lokasi yang banyak memiliki fasilitas dan kemudahan sehingga menjadi pusat daya tarik (pole of attraction), yang menyebabkan berbagai macam usaha tertarik untuk berlokasi di situ dan masyarakat senang datang memanfaatkan fasilitas yang ada di kota tersebut, walaupun kemungkinan tidak ada interaksi antara usaha-usaha tersebut. (Tarigan, 2005 : 128)

Pustaka :

  1. Sukirno, Sadono. Pengantar Teori Mikroekonomi. Jakarta. 2000
  2. Daldjoeni, N. Geografi Kota Dan Desa. Salatiga. 1996.
  3. Lowry Nelson. Rural Sociology. American Book Company New York 2nd edition. 1955
  4. Kartohadikusumo, Sutardjo. Desa. Yogyakarta 1953
  5. Thompson, W.S.. Population Problem. Mc.Graw Hill Book Company Inc. New York. 1953
  6. The Liang Gie. Pembahasan Undang-undang 1955 No.19 Tentang Desa Praja. Fakultas Sosial dan Politik UGM. Yogyakarta. 1967
  7. Kamus Tata Ruang . Direktorat Jenderal Cipta Karya. Departemen Pekerjaan Umum. 1998
  8. Jayadinata, Johara T. Tata Guna Tanah Dalam Perencanaan Pedesaan Perkotaan & Wilayah. Penerbit ITB. 1999
  9. Tarigan, Robinson. Perencanaan Pembangunan Wilayah. Jakarta. 2005
  10. http://www.ciss.com
  11. http://www.lib.itb.ac.id

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s