Indikator Pembangunan Ekonomi Pedesaan

Dalam pembangunan pedesaan, perencanaan ekonomi dan sosial adalah merupakan prasyarat. Suatu desa dianalisis sebagai suatu sistem ekonomi dan sosial terbuka yang berhubungan dengan desa-desa lain melalui arus perpindahan faktor produksi, pertukaran komoditas dan informasi serta mobilitas penduduk. Merupakan persoalan yang penting pula yaitu bagaimana mengukur peningkatan dalam kegiatan ekonomi dan sosial, peningkatan produksi, sumberdaya pembangunan, pendapatan perkapita, perbaikan sistem tranportasi. Beberapa indikator dalam pembangunan ekonomi pedesaan yang dikemukakan dalam (Rahardjo Adisasmita, 2006) adalah sebagai berikut :

  • Pendapatan Desa Per Kapita

Salah satu konsep penting dalam pembangunan ekonomi pedesaan adalah nilai seluruh produksi (PDRB) dalam suatu desa atau (Produksi Domestik Regional Bruto untuk tingkat kabupaten). Nilai seluruh produksi ini merupakan ukuran prestasi ekonomi dari seluruh kegiatan ekonomi, yang dihitung dengan menjumlahkan biaya atau penghasilan yang diperlukan untuk memproduksi output. Nilai seluruh produksi dikurangi pajak tak langsung netto dan penyusutan maka diperoleh pendapatan pedesaan, jika dibagi dengan jumlah penduduk desa menjadi sama dengan Pendapatan Pedesaan per kapita.

  • Ketimpangan Pendapatan

Analisis ketimpangan dimulai dengan pertanyaan tentang beberapa persen dari total pendapatan yang diterima oleh 20 persen populasi yang berpendapatan terendah, 50 persen terendah dan seterusnya. Dalam keadaan ekstrim dimana pendapatan dengan mutlak di distribusikan secara adil, 40 persen populasi terbawah akan menerima 40 persen dari total pendapatan, dan 40 persen populasi sedang akan menerima 40 persen dari total pendapatan, dan 20 persen populasi teratas akan menerima 40 persen total pendapatan.

  • Perubahan Struktur Perekonomian

Umumnya, struktur perekonomian daerah pedesaan masih berat sebelah pada sektor pertanian (kontribusi sektor pertanian masih sangat besar). Meskipun kontribusi sektor pertanian masih sangat besar, namun pembangunan daerah pedesaan memperlihatkan perkembangan yang nyata, seperti diterapkannya mekanisme sistem pertanian, penggunaan bibit/ benih unggul, dan sarana produksi lainnya yang lebih baik, telah menunjukan perkembangan yang menjanjikan. Orientasi pembangunan daerah pedesaan diarahkan pada sasaran :

    • Penguatan ketahanan pangan
    • Menunjang pengembangan kegiatan sektor industri dan mendorong ekspor
    • Memperluas lapangan kerja di daerah pedesaan yang diharapkan dapat mengurangi arus penduduk pedesaan berurbanisasi ke kota-kota besar.
    • Mengembangkan kerjasama antar daerah pedesaan untuk memperkokoh struktur perekonomian pedesaan
  • Pertumbuhan Kesempatan Kerja

Masalah ketenagakerjaan dan kesempatan kerja merupakan suatu masalah mendesak dalam pembangunan pedesaan karena mencakup secara langsung upaya pencapaian Trilogi Pembangunan, yaitu :

    • Pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya
    • Pertumbuhan ekonomi yang tinggi
    • Terciptanya stabilitas yang dinamis

Pustaka :

Adisasmita, Rahardjo. Pembangunan Pedesaan dan Perkotaan. Yogyakarta. 2006

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s