Haruskah Lentera Itu Redup?!

Haruskah Lentera Itu Redup?!

Oleh : Fahmi N. Subardin

Alkisah di sebuah kampung kecil hiduplah seorang ustadz, yang pekerjaan sehari-harinya selain guru ngaji dan imam di mushola kumuh belau adalah seorang petani yang menggarap lahan milik seorang mandor yang memiliki kekayaan tidak terhingga. Ukuran lahan yang digarap sang ustadz kurang lebih 1 Ha dan lahan itu ditanaminya berbagai macam jenis tanaman dan tumbuhan, seperti pohon pisang, cabai, jagung dan tanaman lainnya. Hasil kebun yang di dapat sang ustadz sebagian di konsumsi sendiri, sebagian diberikan kepada sang mandor dan sebagian di jual ke pasar. Memang hasil penjualan itu tidak seberapa, tapi cukup untuk membeli ikan asin untuk makan sehari-hari anak dan istrinya.

Walaupun hidupnya sangat terbatas, sang ustadz tidak pernah lupa  untuk mengajar ngaji pada anak-anak di kampung itu. Kegiatan mengajar ngaji ini dilakukan hampir tiap hari, kecuali pada malam jum’at karena sang ustadz harus memberi siraman rohani pada bapak-bapak dan ibu-ibu di mushola. Mungkin sudah tak terhitung jumlah anak-anak di kampung itu yang awalnya tidak bisa membaca Al-Qur’an sampai akhirnya anak-anak tersebut menjadi sangat pasyih dalam membaca Al-Quran. Hal ini adalah benih dari sebuah kerja keras yang dibarengi oleh keikhlasan dan kesabaran  sang ustadz tersebut.

Singkat cerita, pada suatu hari sang ustadz ditawari oleh sang mandor untuk menggarap lahan kosong lainnya dimana jarak lahan kosong tersebut dengan rumah sang ustadz cukup jauh yaitu kurang lebih 5 Km. Sang mandor sangat  ingin sang ustadz itu yang menggarap lahannya, hal ini dikarenakan sang mandor sudah menaruh kepercayaan penuh pada sang ustadz dan yakin sang ustadz akan merawat dengan baik lahan miliknya. Tak hanya itu, sang mandor juga menaruh kepercayaan kepada sang ustadz untuk beternak ayam di lahan kosong tesebut. Karena di iming-imingi keuntungan yang cukup lumayan akhirnya sang ustadz menyanggupinya.

Perlahan tapi pasti sang ustadz mulai menggarap lahan itu dan dibuatnya saung yang berfungsi selain untuk tempat istirahat juga dibuatnya kandang ayam. Hari demi hari bulan demi bulan akhirnya lahan kosong yang tadinya dipenuhi dengan ilalang kemudian disulapnya menjadi kebun yang ditanami beraneka jenis tanaman dan tumbuhan. Begitu pula dengan ayam tadi, yang awalnya cuma 4 pasang ekor ayam saja kemudian berkembang biak dengan pesat, sampai-sampai karena jumlahnya terlalu banyak sang ustadz membuat kandang ayam baru.

Setelah sekian lama ternyata pekerjaan menggarap lahan ini mulai berdampak pada kegiatan keustadzan di kampungnya. Pemberian siraman rohani yang biasa dilakukan tiap malam jum’at pada bapak-bapak dan ibu-ibu di kampung tersebut sudah jarang dilakukan, malahan mulai ditinggalkannya, begitu pula dengan kegiatan mengajar ngaji anak-anak yang ada di kampung tersebut. Hal ini dikarenakan sang ustadz sangat disibukan oleh kebun dan ternak ayamnya, sampai-sampai sang ustadz harus sering bermalam di saung tersebut hanya demi untuk menjaga agar ayamnya tidak di curi orang atau dimakan binatang liar.

Kisah sang ustadz diatas bagi saya cukup menggambarkan kondisi sebagian besar dosen  di Jurusan Teknik Planologi UNPAS pada saat ini. Saya merasa masih cukup beruntung karena awal menimba ilmu di jurusan ini dimulai pada tahun 2004. Pada tahun 2004-2006 saya melihat para dosen begitu kompak dalam membina ataupun mengajar para anak didiknya. Apalagi ketika menginjak MK Studio Proses Perencanaan, dari mulai asisten dan para dosen sangatlah kental dengan nuansa kebersamaannya.

Angkatan PL 2004 memulai Studio Proses Perencanaan berlokasi di Kota Sukabumi, dimana pada waktu itu kami di gabungkan dengan MK Studio Kota yang mayoritas adalah PL angkatan 2002. Survey yang dilakukan kurang lebih satu minggu itu memberi begitu banyak hal kepada saya. Perasaan senang, sedih, dan lelah mungkin hal yang biasa pada saat itu, akan tetapi pada saat sekarang pengalaman itu ternyata berubah menjadi sesuatu yang teramat luar biasa.

Sebelumnya saya ingin bercerita atau pandangan saya khususnya terhadap PL angkatan 2004. ungkapan yang menyatakan “bahwa penyesalan itu selalu datang di akhir” mungkin benar adanya. Saya merasakan sebuah penyesalan ketika survey dan pengerjaan laporan itu berjalan, penyesalan itu dikarenakan pada saat itu saya merasa sangat angkuh dan rasa perduli/solidaritas terhadap kawan-kawan PL 2004 begitu kecil bahkan bisa dikatakan tidak ada sama sekali. Mungkin pada saat itu kawan-kawan menganggap saya adalah orang yang paling  tidak mengerti dan faham benar mengenai arti dari sebuah kebersamaan. Andai saja lorong waktu itu ada, saya akan masuk ke lorong waktu tersebut dan memperbaiki segala kesalahan-kesalahan yang sudah saya perbuat terhadap kawan-kawan PL 2004. Tak berlebihan jika saat ini hati saya memberi ruang khusus kepada PL 2004 yang mana mereka adalah guru yang amat berjasa dalam hidup saya. Bolehlah kiranya saya mengumpamakan PL 2004 seperti Bumi, dimana dalam bumi itu terdapat begitu banyak macam spesies, tumbuhan dan kehidupan yang bisa dipelajari satu persatu kemudian nantinya selalu mampu memberi ilmu baru kehidupan bagi manusia.

Kembali ke pokok pembahasan. Menginjak tahun 2009 yang mana saya diberi kesempatan untuk membina adik kelas/junior sebagi asisten survey studio proses di Kabupaten Bogor. Pengalaman menjadi asisten lumayan menyegarkan ingatan saya ketika masa-masa kuliah dengan kawan-kawan. Tawa dan canda menghiasi selama kegiatan survey, tatkala benih-benih asmara antara kawan (lawan jenis) pun sering terjadi, saling ejek, seakan semua melebur menjadi satu. Alangkah indahnya masa-masa itu.

Tak terasa survey pun sudah menginjak 6 (enam) hari dan semua keperluan data pun sudah cukup terpenuhi untuk dioleh kembali dikampus, dan kami pun sepakat untuk pulang kembali ke Kota Bandung. Dalam hati saya terbersit mudah-mudahan apa yang adik kelas saya dapatkan selama survey di Kabupaten Bogor bisa memberikan manfaat khususnya menambah ilmu dan wawasan bagi mereka. Dan disitulah tugas aya sebagai seorang asisten survey sudah selesai.

Dua minggu setelah kepulangan kami ke Kota Bandung rutinitas MK Studio Proses pun dimulai. Biasanya rutinitas itu berupa asistensi dengan asisten tetap MK dilakukan dua kali dalam seminggu dan kalau hasil asistensi itu sudah mencapai Bab 4/berbentuk laporan maka laporan yang sudah dikerjakan akan dipresentasikan dihadapan para dosen PL. Disanalah nantinya para dosen akan memberikan masukan-masukan terkait dengan laporan yang sudah dibuat tim studio MK. Terkadang dosen MK Studio Proses pun menyempatkan diri memberi masukan ketika masih dalam proses asistensi. Seolah-olah mahasiswa dan dosen bergotong royong demi menciptakan sebuah laporan studio proses yang berbobot dan berkualitas.

Tapi sungguh disayangkan ternyata tahun 2009 tak lagi seperti tahun 2004, keadaannya sungguh jauh berbeda. Selama perjalanan penyusunan laporan studio proses saya cukup mengikuti perkembangannya, sesekali sering mendapat laporan mengenai kurang diperhatikannya para peserta studio proses oleh dosen terkait. Dari LHS, Laporan Pendahuluan sampai dengan Anslisis/kesimpulan (laporan akhir) hanya satu kali dosen bersangkutan memberi masukan. Artinya laporan yang dibuat bisa dibilang secara keseluruhan hasil prakarsa asisten dan mahasiswa saja. Kegiatan presentasi yang dihadiri seluruh dosen jurusan pun tidak ada sampai akhirnya laporan dibukukan.

Sungguh kasihan adik kelas saya yang tidak merasakan tegangnya waktu presentasi dihadapan para dosen, ketegangan waktu garangnya ditanya oleh para dosen, sindiran-sindiran yang memotivasi, dll.

Dalam hati kecil pun saya berdoa agar kejadian ini dimasa tahun 2010 dan seterusnya jangan sampai terulang. Jika memang harus biarlah peserta studio proses tahun 2009 menjadi tumbal untuk generasi adik-adik kelasnya nanti. Amin.

Mohon maaf jika banyak kekurangan dalam tulisan yang saya buat. Untuk pihak-pihak terkait saya mohon maaf dan tidak bermaksud untuk menjatuhkan nama perorangan atau akademisi. Tulisan yang saya buat semata-mata adalah bentuk kecintaan dan kerinduan saya terhadap jurusan yang telah mendidik dan mengucurkan ilmu yang teramat tak terhingga kepada saya. Sekali lagi dengan rasa kerendahan hati saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s