Tiga Puluh Siswa SMK Lesbian ?!

Berawal dari undangan MUBES KUMALA Pw. Bandung pada tanggal 25 Januari 2010 yang bertempat di Gedung Unit Kegiatan Mahasiswa UPI Bandung, akhirnya saya di pertemukan dengan kawan lama sebut saja Abdul Muiz. Beliau adalah kawan lama saya yang berasal dari Kabupaten Pandeglang dan sudah menjadi guru Bhs. Inggris dan juga terpilih menjadi Ketua KUMANDANG Pw. Bandung sampai dengan priode sekarang. Sekitar pukul 15.00 WIB akhirnya saya dan si Muiz bergegas pulang karena cuaca pada sore itu mulai mendung. Sebelum pulang ke kosan saya menyempatkan diri mengantar si Muiz ke asrama KUMANDANG yang berlokasi di Jalan Tamansari. Setelah sampai di asrama KUMANDANG saya diajak untuk ngobrol sambil ngopi ^_^ di teras, yah apa boleh buat karena tidak enak hati saya pun menyetujui ajakan si Muiz.

Entah siapa yang memulai kami pun terhanyut dalam obrolan tentang banyak hal, dari soal organisasi, kerjaan, politik, wanita, dll. Ada yang menarik ketika si Muiz bercerita tentang pengalamannya mengajar Bhs. Inggris di salah satu SMK Swasta di Bandung. Menariknya yaitu mengenai jumlah LESBIAN yang mencapai angka 30 orang, dan itu baru yang terdaftar di catatan guru BP sekolah tersebut.

Terbongkarnya para lesbian tersebut berawal dari laporan seorang siswa yang melihat dua pasangan lesbi yang sedang mesra-mesraan di dalam kamar mandi sekolah. Kemudian guru BP sekolah memanggil kedua pasangan itu dan mengintrogasinya. Informasi dari hasil introgasi itu mengagetkan guru BP, karena ternyata setelah ditelusuri bukan mereka saja yang lesbian melainkan masih banyak siswa lain yang berprilaku sama. Akhirnya dari informasi itu guru BP mengembangkan dan memanggil satu persatu yang berprilaku sama, alangkah kagetnya guru BP tersebut ternyata jumlah yang berhasil di data mencapai angka 30 orang. Hasil keterangan yang didapat oleh guru BP ternyata bukan masalah jumlah lesbi saja, melainkan ternyata secara diam-diam para lesbi ini membentuk komunitas yang pada waktu tertentu sering berkumpul ditempat tertentu.

Dari data itu para guru dibuat bingung mengenai sangksi apa yang harus di berikan kepada mereka. Apakah sangksi membersihkan kamar mandi?, apakah berdiri ditengah-tengah lapangan (bahasa kerennya dijemur ^_^?, apakah di skorsing?, apakah mengeluarkan siswa dari sekolah? jawabnya itu sangat tidak mungkin, karena sekolah swasta itu tidak memiliki aturan mengenai LESBI dan sisi lain sekolah swasta ini sangat butuh siswa. Di samping itu, sangksi itu tidak tepat diberlakukan, karena biasanya sangksi di jemur, membersihkan kamar mandi diberikan kepada siswa yang ketahuan bolos, merokok, tidak mengerjakan PR dll. Tapi pada akhirnya dengan banyak melakukan pertimbangan para guru sepakat untuk memberikan sangksi yaitu memberikan penyuluhan rohani kepada mereka. Dan sebenarnya penyuluhan rohani menurut saya bukan termasuk “sanksi” akan tetapi sudah menjadi kewajian guru terhadap muridnya.

Pertanyaan yang muncul di benak saya sekarang adalah apakah penyuluhan ini efektif dan mampu meredam mereka agar tidak melakukan hal yang menyimpang tersebut?. Mungkin jawabannya akan sangat beraneka ragam, seperti ada yang meninggalkan hal yang menyimpang tersebut, ada yang meninggalkan sejenak tapi akhirnya kembali lagi (tobat sambel ), ada yang tidak mengindahkan dan melakukan kembali secara diam-diam dan sebagainya.

Mendengar kata lesbi sebenarnya bukan hal asing di telinga saya. Mungkin sejak SMP saya sudah mengenal kata lesbi dari berbagai buku, media cetak dan elektronik. Dan ketika duduk dibangku perkuliahan baru saya sedikitnya faham benar siapa itu lesbi, faktor yang menyebabkan mereka terjerumus ke dunia lesbi, lingkungannya, tingkahnya, pekerjaannya dan lain-lain. Hal ini saya ketahui salah satunya ketika suatu hari di Asrama Keluarga Mahasiswa Lebak (KUMALA) Pw. Bandung mengundang para lesbian kalau boleh dikatakan “Lesbian Tingkat Tinggi” untuk berdiskusi di Asrama. Kenapa saya katakan Lesbian Tingkat Tinggi, karena orang-orang ini memiliki intelektual diatas rata-rata. Tak heran mereka bisa lulus dengan nilai memuaskan di ITB.

_Jujur setelah diskusi itu mata, fikiran, dan hati saya terbuka lebar. Padangan saya yang awalnya “hitam” terhadap mereka setika berubah jadi “abu-abu”. Mungkin bagi sebagian orang banyak kaum lesbian sangat negatif, melanggar norma agama dan melanggar budaya ketimuran, tapi itu tidak bagi saya. Bagi saya mereka adalah kaum minoritas yang patut dihargai dan di bina bukan hanya untuk sekedar dihakimi.

Kembali lagi ke 30 lesbi SMK tadi. Saya ingin sedikit berbagi pengalaman bagi para orang tua dan para pendidik (guru) mengenai asal muasal kecenderungan seorang siswi SMU/SMK/Remaja Kota Bandung hingga menjadi Lesbi. Dan mungkin sedikit pandangan saya menenai pencegahan agar siswi/anak anda terhindar dari lesbian.
Menurut hasil survey yang telah dilakukan (survey tahun 2005 di Jawa-Bali, 1000 koresponden) oleh sebuah lembaga, penyebab lesbi/ suka sesama jenis antara lain :

1. Kekecewaan pada orang tua (19.1%)
Maksudnya, karena memiliki figur ayah yang sangat tidak baik, seorang anak perempuan menjadi lesbi. Atau sebaliknya.

2. Kekecewaan pada pasangan (18.9%)
Kekecewaan mendalam kepada pasangan pada saat pacaran, atau setelah menikah.

3. Bawaan lahir (18.5%)
Tidak ada keterangan.

4. Pengaruh blue film (18.3%)
Tidak ada keterangan.

5. Pengaruh teman (12.8%)
Terpengaruh teman. 57% diantaranya dilakukan oleh teman secara sengaja.

6. Saudara kandung (2.8%)
81% diantaranya karena saudara kandung memiliki perilaku yang sama, sisanya karena mengikuti perilaku saudara kandung yang berlainan jenis.

7. Lain² (9.6%)

Sedangkan dari berbagai surmber lesbi yang saya tanya langsung, untuk remaja yang masih duduk di bangku SMA lebih besar faktor penyebabnya adalah karena perasaan trauma dan kecewa pernah lukai oleh lawan jenisnya, sehingga menimbulkan rasa benci atau tidak menaruh rasa suka lagi terhadap lawan jenis. Pada dasarnya mereka sadar benar dan tau apa yang mereka lakukan adalah dosa dan menyimpang dari norma-norma yang ada, tapi mereka tidak mau perduli dengan hal itu.

Saya berkhayal apa perlu yah di sekolah menambahkan mata pelajaran seperti “mengenal pasangan” dan menambahkan guru “Psikolog dan Psikiater”. Mata pelajaran Mengenal Pasangan tujuannya adalah agar seorang siswi mengenal betul apa yang disebut suka, sayang, cinta terhadap lawan jenis. Bagaimana cara menahan atau mengelola rasa suka, sayang dan cinta itu menjadi sesuatu hal yang positif dan terhindar dari hal-hal yang negatif. Sedangkan Guru Psikolog dan Psikiater tujuannya adalah untuk mengontrol dan menghindari seorang siswi dari human error akibat dari lingkungan, pergaulan, keluarga, perkembangan jaman, teknologi dan lain-lain. hehehe…

One thought on “Tiga Puluh Siswa SMK Lesbian ?!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s