Curhat Dalam Bentuk Puisi dan Sejenisnya

aku dan jiwaku

jiwaku.. biarkan aku ada dalam dirimu..
biarkan aku merasakan nikmatnya indah jiwaku..
biarkan aku menjadi aku aku yang sesunggunya..

jiwaku.. sesungguhnya kau ada disekitarku..
aku cukup merasakan kau hanya diam membisu melihat ketidak berdayaan aku..
aku yang tidak bisa menggenggammu seperti aku yang tidak pernah bisa menggenggam dunia ku..

@fahmi1986

Indikator Pembangunan Ekonomi Pedesaan

Dalam pembangunan pedesaan, perencanaan ekonomi dan sosial adalah merupakan prasyarat. Suatu desa dianalisis sebagai suatu sistem ekonomi dan sosial terbuka yang berhubungan dengan desa-desa lain melalui arus perpindahan faktor produksi, pertukaran komoditas dan informasi serta mobilitas penduduk. Merupakan persoalan yang penting pula yaitu bagaimana mengukur peningkatan dalam kegiatan ekonomi dan sosial, peningkatan produksi, sumberdaya pembangunan, pendapatan perkapita, perbaikan sistem tranportasi. Beberapa indikator dalam pembangunan ekonomi pedesaan yang dikemukakan dalam (Rahardjo Adisasmita, 2006) adalah sebagai berikut :

  • Pendapatan Desa Per Kapita

Salah satu konsep penting dalam pembangunan ekonomi pedesaan adalah nilai seluruh produksi (PDRB) dalam suatu desa atau (Produksi Domestik Regional Bruto untuk tingkat kabupaten). Nilai seluruh produksi ini merupakan ukuran prestasi ekonomi dari seluruh kegiatan ekonomi, yang dihitung dengan menjumlahkan biaya atau penghasilan yang diperlukan untuk memproduksi output. Nilai seluruh produksi dikurangi pajak tak langsung netto dan penyusutan maka diperoleh pendapatan pedesaan, jika dibagi dengan jumlah penduduk desa menjadi sama dengan Pendapatan Pedesaan per kapita.

  • Ketimpangan Pendapatan

Analisis ketimpangan dimulai dengan pertanyaan tentang beberapa persen dari total pendapatan yang diterima oleh 20 persen populasi yang berpendapatan terendah, 50 persen terendah dan seterusnya. Dalam keadaan ekstrim dimana pendapatan dengan mutlak di distribusikan secara adil, 40 persen populasi terbawah akan menerima 40 persen dari total pendapatan, dan 40 persen populasi sedang akan menerima 40 persen dari total pendapatan, dan 20 persen populasi teratas akan menerima 40 persen total pendapatan.

  • Perubahan Struktur Perekonomian

Umumnya, struktur perekonomian daerah pedesaan masih berat sebelah pada sektor pertanian (kontribusi sektor pertanian masih sangat besar). Meskipun kontribusi sektor pertanian masih sangat besar, namun pembangunan daerah pedesaan memperlihatkan perkembangan yang nyata, seperti diterapkannya mekanisme sistem pertanian, penggunaan bibit/ benih unggul, dan sarana produksi lainnya yang lebih baik, telah menunjukan perkembangan yang menjanjikan. Orientasi pembangunan daerah pedesaan diarahkan pada sasaran :

    • Penguatan ketahanan pangan
    • Menunjang pengembangan kegiatan sektor industri dan mendorong ekspor
    • Memperluas lapangan kerja di daerah pedesaan yang diharapkan dapat mengurangi arus penduduk pedesaan berurbanisasi ke kota-kota besar.
    • Mengembangkan kerjasama antar daerah pedesaan untuk memperkokoh struktur perekonomian pedesaan
  • Pertumbuhan Kesempatan Kerja

Masalah ketenagakerjaan dan kesempatan kerja merupakan suatu masalah mendesak dalam pembangunan pedesaan karena mencakup secara langsung upaya pencapaian Trilogi Pembangunan, yaitu :

    • Pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya
    • Pertumbuhan ekonomi yang tinggi
    • Terciptanya stabilitas yang dinamis

Pustaka :

Adisasmita, Rahardjo. Pembangunan Pedesaan dan Perkotaan. Yogyakarta. 2006

Strategi Pembangunan Pedesaan

Pembangunan masyarakat pedesaan merupakan bagian dari pembangunan masyarakat yang diarahkan pula kepada pembangunan kelembagaan dan partisipasi serta pemberdayaan masyarakat dalam meningkatkan kesejahteraan pada satuan wilayah pedesaan. Di negara-negara berkembang, secara demografis sebagian besar penduduk tinggal di pedesaan dan memiliki tingkat pendidikan rendah.

Seperti dalam pembangunan ekonomi pada umumnya, maka dalam mewujudkan tujuan pembangunan pedesaan, terdapat paling sedikit empat jenis strategis, yaitu strategi pertumbuhan, strategi kesejahteraan, strategi yang responsif terhadap kebutuhan masyarakat, strategi terpadu atau strategi yang menyeluruh. (Rahardjo Adisasmita, 2006 : 21).

  • Strategi Pertumbuhan

Strategi pertumbuhan umumnya dimaksudkan untuk mencapai peningkatan secara cepat dalam nilai ekonomis melalui peningkatan pendapatan perkapita, produksi dan produktivitas sektor pertanian, permodalan, kesempatan kerja, dan peningkatan kemampuan partisipasi masyarakat pedesaan.

  • Strategi Kesejahteraan

Strategi kesejahteraan pada dasarnya dimaksudkan untuk memperbaiki tarap hidup atau kesejahteraan penduduk pedesaan melalui pelayanan dan peningkatan program-program pembangunan sosial yang berskala besar atau nasional, seperti pningkatan pendidikan, perbaikan kesehatan dan gizi, penanggulangan urbanisasi, perbaikan permukiman penduduk, pembangunan fasilitas transportasi, penyediaan prasarana dan sarana sosial lainnya.

  • Strategi Responsif Terhadap Kebutuhan Masyarakat

Strategi ini merupakan reaksi terhadap strategi kesejahteraan yang dimaksudkan untuk menggapai kebutuhan-kebutuhan masyarakat dan pembangunan yang dirumuskan oleh masyarakat sendiri mungkinsaja dengan bantuan pihak luar untuk memperlancar usaha mandiri melalui pengadaan teknologi dan tersedianya sumber-sumber daya yang sesuai kebutuhan di pedesaan

  • Strategi terpadu dan Menyeluruh

Strategi terpadu dan menyeluruh ini ingin mencapai tujuan-tujuan yang menyangkut kelangsungan pertumbuhan, persamaan, kesejahteraan dan partisipasi aktif masyarakat secara simultan dalam proses pembangunan pedesaan.

Pustaka :

Adisasmita, Rahardjo. Pembangunan Pedesaan dan Perkotaan. Yogyakarta. 2006

Masalah & Faktor Berpengaruh Terhadap Perkembangan Desa

Masalah

Terdapat beberapa kekurangan-kekurangan yang terdapat di desa dan merupakan masalah yang harus dapat dipecahkan yaitu antara lain: faktor tanah, modal, tenaga kerja dan faktor kepemimpinan dan organisasi, yang masih merupakan ciri khas bagi desa-desa

Kemiskinan yang dialami di desa-desa disebabkan oleh:

  • Rendahnya produktivitas tanah
  • Kurangnya modal
  • Rendahnya tingkat pendidikan
  • Kekurangan leadership yang dapat membimbing ke arah kemajuan ekonomi.

Bagi desa yang sifatnya agraris, soal tanah adalah penting tetapi faktor tanah saja tidak akan berarti bila tidak dihubungkan dengan unsur manusia. Rendahnya produktivitas tanah tidak dapat ditolong jika tidak ada peningkatan taraf peningkatan modal dan penggunaan modal secara efisien dan ekonomis.         (Bintarto, 1977 : 36).

Faktor-faktor yang Berpengaruh Terhadap Perkembangan Desa

Perluasan perkembangan desa tergantung dari pengaruh-pengaruh faktor dalam dan faktor luar. Hal ini seperti yang dijelaskan oleh (Bintarto, 1977) di dalam bukunya.

Faktor Dalam, antara lain :

  • Warga desa, dalam arti sampai dimana taraf pengetahuan masyarakat desa setempat
  • Sumber tanaman di desa, dalam arti macam-macam tanaman yang dapat tumbuh dan berguna bagi penduduk untuk sendiri dan perdagangan.
  • Sumber air dalam arti sungai, sumur atau curah hujan yang cukup untuk menghidupi tiga bentuk hidup di dalam desa yaitu manusia, hewan, dan tanaman.
  • Sumber tanah, dalam artian tanah yang produktif, yang masih mempunyai tingkat kesuburan yang cukup lama.

Faktor Luar, antara lain :

  • Hubungan lalu-lintas antara desa dengan desa-desa atau kota-kota di luar desa itu.
  • Pengaruh dari luar, dalam hal ini dari jawatan-jawatan atau instansi-instansi vertikal yang mengurusi persoalan-persoalan desa.
  • Pengaruh topografi, dalam artian pengaruh terhadap pertambahan areal tempat kediaman penduduk.

Pustaka :

Bintarto, R. Geografi Desa. Yogyakarta. 1977.

Istilah-Istilah Dalam Perkembangan Desa

Arahan adalah suatu kegiatan yang berorientasi ke masa mendatang dengan tujuan untuk menyesuaikan keadaan dan meningkatkan kegiatan tersebut secara optimal terhadap potensi yang ada (Sadono Sukirno, 1982).

Desa dalam arti umum adalah permukiman manusia yang letaknya di luar kota dan penduduknya berpangujiwa agraris. Dalam bahasa Indonesia sehari-hari disebut juga kampung. Desa dalam arti lain adalah bentuk kesatuan administratif yang disebut juga kelurahan, lalu lurah adalah kepala desa. Dengan demikian di dalam kota-kota pun dikenal sebutan desa meskipun isinya penuh dengan pertokoan dan pasar serta deretan kios. Adapun desa yang tersebar di luar kota dengan lingkungan fisibiotisnya adalah gabungan dukuh; dukuh ini sendiri dapat mewujudkan suatu unit geografis karena tersebar seperti pulau di tengah-tengah persawahan atau hutan (Daldjoeni, 1998 : 53)

Lowry Nelson dalam Bintarto, Pengantar Geografi Desa (1977) menulis bahwa memang sulit untuk menyusun definisi dari desa yang tepat, tetapi sebagai geograf ia berdasarkan kenyataan bahwa faktor-faktor geografis yang jelas berpengaruh pada desa, mendefinisikan desa demikian: perwujudan geografis yang ditimbulkan oleh unsur-unsur geografis, sosial, ekonomis, politis, dan kultural yang ada di situ, dalam hubungannya dan pengaruh timbal balik dengan daerah-daerah lainnya.

Adapun desa dalam arti administratif oleh Sutardjo Kartohadikusumo 1953, dijelaskan sebagai suatu kesatuan hukum dimana bertempat tinggal suatu masyarakat yang berkuasa mengadakan pemerintahan sendiri.

Menurut W.S. Thompson, 1953 mengatakan bahwa desa merupakan salah satu tempat untuk menampung penduduk.

Menurut The Liang Gie, 1967 mengatakan desa sebagai daerah otonom tingkat terbawah. Desa dimaksudkan daerah yang terdiri dari suatu atau lebih dari suatu desa yang digabungkan, hingga merupakan suatu daerah yang mempunyai syarat-syarat cukup untuk berdiri menjadi daerah otonom yang berhak mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri.

(Sebagaimana dijelaskan oleh Kamus Tata Ruang edisi 1. diterbitkan oleh Direktorat Jendral Cipta Karya Departemen Pekerjaan Umum. 1998 : 17) Desa adalah suatu wilayah yang ditempati oleh sejumlah penduduk sebagai kesatuan masyarakat termasuk di dalamnya kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai organisasi pemerintahan terendah langsung dibawah camat dan berhak menyelenggarakan rumah tangganya sendiri di ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia ; permukiman kecil di luar kota dengan jumlah penduduk, luas daerah geografisnya terbatas, kepadatan penduduk rendah, berpola hubungan tradisional, mata pencaharian yang utama di bidang pertanian.

Wilayah pedesaan, menurut Wibberley, menunjukan bagian suatu negeri yang mempelihatkan penggunaan tanah yang luas sebagai ciri penentu, baik pada waktu sekarang maupun beberapa waktu yang lampau. (T.Johara, 1999)

Yudi 1996, dalam (http://www.ciss.com) menyebutkan Desa Pusat Pertumbuhan yaitu suatu wilayah yang berperan sebagai tempat pelayanan sosial-ekonomi terhadap daerah belakangnya, yang diharapkan sebagai pusat dan dapat menjalarkan perkembangan ke daerah pengaruhnya. Pusat tersebut dapat ditentukan dengan terkonsentrasinya sarana dan prasarana yang mendukung kegiatan masyarakat daerah sekitarnya.

Sedangkan menurut Jurnal Tata Ruang (http://www.lib.itb.ac.id) mengenai pusat pertumbuhan dan pusat pelayanan adalah:

  1. Pusat pertumbuhan merupakan tempat berkumpulnya kegiatan yang mampu berperan sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi, serta mempunyai keterkaitan produksi baik secara vertikal maupun horizontal.
  2. Pusat pelayanan merupakan pusat yang memberikan pelayanan bagi wilayah pengaruhnya dalam penyediaan barang dan jasa. Didukung empat unsur penting untuk menjelaskan terselenggaranya kegiatan dipusat-pusat pelayanan yaitu:
    • Hirarki : suatu kegiatan pelayanan mempunyai tingkatan dimulai dari tingkatan rendah dipermukiman kecil, sampai pada tingkatan tingkatan yang terdapat di kota besar.
    • Fungsi : meliputi jenis pelayanan dan kelengkapan fasilitasnya.

Pusat pertumbuhan (growth pole) dapat diartikan dengan dua cara, yaitu secara fungsional dan secara geografis. Secara fungsional, pusat pertumbuhan adalah suatu lokasi konsentrasi kelompok usaha atau cabang industri yang karena sifat hubungannya memiliki unsur-unsur kedinamisan sehingga mampu menstimulasi kehidupan ekonomi baik dalam maupun ke luar (daerah belakangnya). Secara geografis, pusat pertumbuhan adalah suatu lokasi yang banyak memiliki fasilitas dan kemudahan sehingga menjadi pusat daya tarik (pole of attraction), yang menyebabkan berbagai macam usaha tertarik untuk berlokasi di situ dan masyarakat senang datang memanfaatkan fasilitas yang ada di kota tersebut, walaupun kemungkinan tidak ada interaksi antara usaha-usaha tersebut. (Tarigan, 2005 : 128)

Pustaka :

  1. Sukirno, Sadono. Pengantar Teori Mikroekonomi. Jakarta. 2000
  2. Daldjoeni, N. Geografi Kota Dan Desa. Salatiga. 1996.
  3. Lowry Nelson. Rural Sociology. American Book Company New York 2nd edition. 1955
  4. Kartohadikusumo, Sutardjo. Desa. Yogyakarta 1953
  5. Thompson, W.S.. Population Problem. Mc.Graw Hill Book Company Inc. New York. 1953
  6. The Liang Gie. Pembahasan Undang-undang 1955 No.19 Tentang Desa Praja. Fakultas Sosial dan Politik UGM. Yogyakarta. 1967
  7. Kamus Tata Ruang . Direktorat Jenderal Cipta Karya. Departemen Pekerjaan Umum. 1998
  8. Jayadinata, Johara T. Tata Guna Tanah Dalam Perencanaan Pedesaan Perkotaan & Wilayah. Penerbit ITB. 1999
  9. Tarigan, Robinson. Perencanaan Pembangunan Wilayah. Jakarta. 2005
  10. http://www.ciss.com
  11. http://www.lib.itb.ac.id

Peta Kota Inti Metro Politan Bandung

Peta Administrasi Di Wilayah Metropolitan Bandung Jabar
Peta Guna Lahan Di Wilayah Metropolitan Bandung Jabar
Peta Pemukiman Di Wilayah Metropolitan Bandung Jabar
Peta Lahan Tak Terbangun Di Wilayah Metropolitan Bandung Jabar
Peta Lahan Terbangun Di Wilayah Metropolitan Bandung Jabar
Struktur Ruang Kota Inti Di Wilayah Metropolitan Bandung Jabar

Sumber : Dinas Tata Ruang dan Permukiman Provinsi Jawa Barat