Arah Kebijakan RTH Kota Bandung

Tujuan dan Sasaran

  • Tujuan : Untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas RTH Kota Bandung dengan melibatkan peran serta masyarakat dalam pengelolaan RTH.
  • Sasaran : Melaksanakan upaya pemeliharaan taman-taman lingkungan dengan fasilitator para pejabat kewilayahan.

Latar Belakang Permasalahan

1. Dari aspek optimalisasi lahan RTH :

Secara kuantitatif ¨Masih kurangnya lahan RTH di Kota Bandung dalam memenuhi target RTH sebesar 30% (target RPJP) juga sebagaimana yang diamanatkan dalam Undang-Undang No. 26 tahun 2007 dimana RTH yang harus tersedia adalah sebesar 20% RTH Publik dan 10% RTH Private juga target RTH pada RPJM yaitu 16%.  Luas RTH Kota Bandung sampai tahun 2008 adalah sebesar 8,87%.  Hasil Up dating data RTH pada tahun 2009 diperoleh data bahwa luas RTH sampai tahun 2009 adalah sebesar 11,2% sehingga untuk mencapai target luas RTH dalam RPJM masih kekurangan 4,8% atau sekitar 800 Ha  atau 1,2% pertahun atau sekitar 200 Ha/tahun. ¨

2. Secara kualitatif

Banyaknya RTH  seperti taman-taman lingkungan dan jalur hijau jalan yang berubah fungsi menjadi  tempat PKL, tempat tinggal gepeng/tunawisma;

  • Tempat pengumpulan barang rongsokan seperti di Taman Cilaki,  Taman Anggrek, Taman Tegallega, dsb.
  • RTH pekarangan yang diubah menjadi perkerasan akibat alih fungsi lahan
  • Kurang terpeliharanya taman-taman.

Kebijakan RTH Kota Bandung

  • UU Tata Ruang No 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, dimana RTH yang harus tersedia adalah 30 % yang terdiri dari 20 % RTH Publik dan 10 % RTH Privat
  • Permendagri No 1 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang Terbuka Hijau Kawasan Perkotaan
  • Permen PU No 5/PRT/M/2008 tentang pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan RTH di Kawasan Perkotaan
  • Perda RTRW No. 3 Tahun 2006 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Bandung
  • Perda RDTRK
  • Perda K-3 No. 11 Tahun 2005 tentang Ketertiban, Kebersihan dan Keindahan Kota
  • Perda Hutan Kota
  • Raperda Pengelolaan RTH Kota Bandung
  • Juknis Pengelolaan RTH Kota Bandung

Landasan Operasional

  • RPJP (Rencana Program Jangka Panjang)
  • RPJM (Rencana Program Jangka Menengah)
  • 7 Program Prioritas Kota Bandung
  • Renja Tahunan
  • Renstra

Potensi dan Masalah

  • Kota Bandung sebagai Ibukota Provinsi Jawa Barat sekaligus sebagai kota jasa terletak di cekungan, memiliki luas 16.729 Ha dengan penduduk sekitar 2,5 juta jiwa
  • Dinamika pembangunan yang berlangsung di Kota Bandung menyebabkan tekanan terhadap ‘infrastruktur hijau perkotaan’ yang lazim disebut sebagai Ruang Terbuka Hijau (RTH) semakin meningkat. Hal ini ditunjukkan oleh berkurangnya ruang terbuka hijau privat seperti pekarangan dan taman-taman lingkungan yang terdapat di kawasan perkantoran, kawasan perdagangan dan industri, serta kawasan permukiman. Meskipun peraturan perundangan yang ditujukan untuk mengendalikan konversi ruang terbuka hijau privat telah tersedia, namun dalam kenyataannya konversi RTH untuk berbagai kepentingan pembangunan tidak dapat dihindarkan.

Kendala Dalam Pengelolaan RTH

  1. Terbatasnya SDM yang sesuai dengan kebutuhan dalam penataan dan pemeliharaan RTH
  2. Taman yg ada : 604 buah, sedangkan taman yang sudah dipelihara oleh Diskamtam : 240 buah. Hal ini disebabkan karena kurangnya SDM lapangan yang terampil. Jumlah personil saat ini : 114 orang, terdiri dari PNS 88 orang, tenaga sukwan 26 orang dengan luas garapan sekitar 129 Ha. Sedangkan jumlah personil yang dibutuhkan untuk memelihara taman keseluruhan sekitar 250 orang, dengan asumsi 1 sektor 50 orang.
    • Contoh : Banyak lahan RTH pekarangan permukiman yang beralih fungsi menjadi perkerasan beton  yang digunakan sebagai lahan parkir, karena adanya alih fungsi lahan menjadi pusat  perdagangan, bahkan pohon-pohon yang ada di jalur hijau jalan terpaksa harus di tebang untuk manuver kendaraan
    • Adanya pemanfaatan RTH publik yang beralih fungsi  menjadi ruang terbangun seperti jalur hijau Sempadan Sungai, jalur hijau Rel Kereta Api
    • Banyak terdapat RTH Publik yang kualitasnya semakin menurun, karena penggunaannya yang beralih fungsi seperti terdapatnya taman-taman lingkungan dan jalur hijau jalan yang berubah fungsi menjadi tempat PKL (Pedagang Kaki Lima) dan tempat tinggal para “gepeng” atau tunawisma

    • Adanya perusakan pohon baik secara fisik mekanik dan penggunaan zat kimia. Contoh : vandalisme, pemotongan akar, pembakaran batang, pembetonan di sekitar pohon, pemberian zat kimia yang dapat mematikan pohon.

    • Adanya kendala keterbatasan lahan RTH karena kebutuhan masyarakat  akan sarana dan prasarana kota terus meningkat, apalagi Kota Bandung tergolong kota padat penduduk.
    • Adanya keterbatasan kemampuan dana, SDM, sarana pendukung operasional pengelolaan RTH

No

Uraian

Kota Bandung

1

Luas Wilayah

16.729 Ha

2

Instansi Pengelola

Dinas Pertamanan

3

Jumlah/Luas Taman

Taman dan jalur hijau 604, kebun bibit 3 (215,33 Ha)

4

Jumlah Penduduk

2,5 Juta Jiwa

5

Persentase RTH

8,7% (526,23 Ha)

    • Peranan kelembagaan yang belum optimal, seperti masih lemahnya koordinasi antar instansi terkait, terutama dalam pengendalian RTH.
    • Masih kurangnya kesadaran sebagian masyarakat dalam pemeliharaan RTH, walaupun ada sebagian masyarakat yang telah mulai peduli terhadap pemeliharaan RTH.
    • Contoh-contoh RTH yang terpelihara dengan adanya partisipasi masyarakat :

Upaya Memecahkan Masalah

  • Harus ada terobosan  dalam  upaya meningkatkan strategi pengelolaan RTH melalui alternatif pendekatan yang komprehensif dari aspek keruangan (spasial), kelembagaan dan masyarakat sebagai pengguna dan mendapatkan manfaat dari RTH yang mempunyai fungsi ekologis, sosial dan estetika dalam rangka mengimplementasikan kebijakan  RTH
  • Dari Aspek Pemanfaatan Ruang (Spasial) salah satu alternatif penambahan dan pengembangan RTH dapat dilakukan dengan pendekatan ekologi lansekap antar kota dan kabupaten sebagai hinterland, sehingga RTH merupakan satu kesatuan dalam wilayah yang mempunyai hubungan fungsional ruang. Dalam hal ini pemanfaatan ruang menuju Bandung Metropolitan
  • Secara kuantitatif, kondisi luasan RTH saat ini (2009) terdapat peningkatan dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya yang dapat dilihat pada tabel sebagai berikut :

  • Tetapi apabila mengacu kepada Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Tata Ruang Kota ditetapkan bahwa 30% tata ruang kota adalah kawasan hijau, yang terdiri dari 20% Ruang Terbuka Hijau (RTH) Publik dan 10% RTH privat, yang kemudian dijabarkan dalam bentuk RPJP (Rencana Pembangunan Jangka Panjang) bahwa RTH yang harus tersedia adalah 30% dan RPJM (Rencana Pembangunan Jangka Menengah) Kota Bandung, di mana Luas RTH 5 (Lima) Tahun ke depan yaitu dari Tahun 2009-2013 RTH Kota Bandung harus mencapai 16%, maka dengan prosentase RTH tahun 2008 sebesar 8,87% masih belum optimal untuk mengejar target 16%, dengan asumsi setiap tahun penambahan RTH rata-rata adalah 1,4% atau sekitar 240 Ha dari luasan Kota Bandung 16.729 Ha. Oleh karena itu dibutuhkan suatu kebijakan pengelolaan RTH yang  dapat mengendalikan pemanfaatan  ruang kota, yang ditindaklanjuti dengan strategi implementasi kebijakan RTH sehingga kawasan hijau di Kota Bandung tetap terjaga dengan acuan 30 persen kawasan hijau terpenuhi
  • Secara kualitatif  memanfaatkan lahan-lahan RTH yang ada secara maksimal dalam upaya mengoptimalkan lahan RTH
  • Dari Aspek Kelembagaan,peningkatan  koordinasi baik secara internal maupun eksternal antar instansi terkait.

Faktor-faktor yang mempengaruhi Implementasi Kebijakan

4 (empat) faktor krisis yang mempengaruhi  pelaksanaan kebijakan, seperti yang diungkapkan oleh Edward III , yaitu:

1. Komunikasi

Komunikasi menunjukkan peranan penting sebagai acuan agar pelaksana kebijakan mengetahui persis apa yang mereka kerjakan berarti komunikasi juga dapat dinyatakan dengan perintah dari atasan terhadap pelaksana-pelaksana kebijakan sehingga penerapan kebijakan tidak keluar dari sasaran yang dikehendaki. Dengan demikian komunikasi tersebut harus dinyatakan dengan jelas, tepat dan konsisten.

2. Sumber Daya

Sumberdaya tidak hanya mencakup jumlah sumber daya manusia/aparat semata melainkan mencakup kemampuannya untuk mendukung pelaksanaan kebijakan tersebut hal ini dapat menjelaskan bahwa tanpa sumber daya yang memadai maka pelaksanaan kebijakan tidak akan berjalan dengan efektif.

3, Disposisi / Sikap Pelaksanaan

Yang diartikan sebagai keinginan atau kesepakatan dikalangan pelaksana untuk menerapkan kebijakan. Jika penerapan kebijakan dilaksanakan secara efektif, pelaksana tidak hanya harus mengetahui apa yang akan mereka kerjakan namun harus memiliki kemampuan dan keinginan untuk menerapkannya.

4. Struktur Birokrasi

Struktur birokrasi merupakan variabel terkhir yang mempunyai dampak terhadap penerapan kebijakan dalam arti bahwa dalam penerapan kebijakan itu tidak akan berhasil jika terdapat kelemahan dalam struktur birokrasi tersebut. Dalam hubungan ini setiap pihak yang terkait dalam implementasi kebijakan perlu mengembangkan suatu prosedur standar pelaksanaan.

Langkah-langkah Strategis

  • Intensifikasi Penataan taman-taman dan jalur hijau
  • Beberapa taman dan jalur hijau akan di coba pemeliharaannya dengan sistem outshorsing;
  • Sosialisasi yang lebih intensif untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan taman-taman dan jalur hijau serta pengamanan pohon ;
  • Evaluasi terhadap pola kemitraan penataan dan pemeliharaan taman yang sudah dilaksanakan ;
  • Koordinasi lebih intensif dengan instansi terkait ( Bappeda, Distarcip, BPLH, Dinas Pertanian, Pol PP, PD.Kebersihan, DBMP, Dishub, PD. Pasar, dll), serta aparat kewilayahan;
  • Penambahan prasarana dan sarana pemeliharaan taman (pembuatan sumber air tanah, tanki penyiraman, motor roda 3, mesin babad rumput, sensow dll).

Sumber Bacaan:

  1. Bappeda Kota Bandung
  2. Dinas Pemakaman dan Pertamanan Kota Bandung
About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: